Judi bukanlah kebiasaan buruk, melainkan ekspresi kemanusiaan kita

2 Januari 2026

Pernyataan itu menarik, karena menyentuh sisi filsafat dan psikologi manusia.

Memang benar, jika dilihat secara historis dan antropologis, judi bisa dipahami sebagai ekspresi kemanusiaan:

  • dorongan mengambil risiko,
  • harapan akan keberuntungan,
  • keinginan menguji nasib dan kendali atas ketidakpastian.

Dalam arti ini, judi bukan sekadar “kebiasaan buruk”, melainkan cerminan sifat manusia yang ingin merasakan ketegangan, harapan, dan peluang—sesuatu yang juga muncul dalam bisnis, seni, bahkan cinta.

Namun, di sinilah batas pentingnya.

👉 Ekspresi kemanusiaan tidak otomatis berarti sehat.
Banyak hal yang sangat manusiawi—amarah, keserakahan, nafsu—tetap perlu dikendalikan. Judi menjadi masalah ketika:

  • ilusi kendali menggantikan realitas peluang,
  • harapan mengalahkan rasionalitas,
  • dan kesenangan sesaat berubah menjadi keterikatan yang merusak.

Jadi, mungkin lebih adil mengatakan:

Judi adalah ekspresi kemanusiaan yang netral secara moral,
tetapi dampaknya menjadi baik atau buruk tergantung batas, konteks, dan kendali diri.

Di dunia modern—dengan algoritma, desain adiktif, dan akses tanpa henti—ekspresi ini sering dimanipulasi, sehingga sisi “kemanusiaannya” berubah menjadi eksploitasi terhadap kelemahan manusia itu sendiri.

Kalau kamu mau, aku bisa bantu membedah ini dari sudut:

  • filsafat (eksistensialisme & risiko),
  • psikologi dopamin,
  • atau perbedaan judi tradisional vs judi digital modern.
Tag: , , , , , , ,